Menhir di Desa Adat Ratenggaro, Sudah Berusia 4.500 Tahun

Menhir di Desa Adat Ratenggaro, Sudah Berusia 4.500 Tahun
Menhir di Desa Adat Ratenggaro, Sudah Berusia 4.500 Tahun

Desa Adat Ratenggaro merupakan sebuah desa yang berada di ujung selatan Sumba, tepatnya di Desa Maliti Bondo Ate, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya. Desa ini berada persis di muara Sungai Wai Ha dan bersebelahan dengan Kampung Adat Wainyapu.

Desa ini memiliki keindahan rumah adat dan ratusan kubur batu berusia ribuan tahun yang menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, desa ini juga dihiasi kawasan pantai yang tak kalah cantik.

Mengutip dari indonesia.go.id, nama Ratenggaro diambil dari gabungan dua kata, rate dan garo. Rate berarti kuburan, sedangkan garo adalah nama suku di Sumba.

Menurut hikayat setempat, desa ini awalnya terbentuk usai perang antarsuku yang melibatkan Suku Garo. Kekalahan Suku Garo menyebabkan seluruh warganya terbunuh dan dimakamkan di sekitar wilayah peperangan. Dari sanalah nama Desa Ratenggaro berasal.

Seluruh warga yang terbunuh itu dikubur dalam bebatuan atau menhir. Kubur batu ini berserak di sekitar desa dengan jumlah mencapai 304 menhir.

Konon, teknik mengubur menhir sudah ada sejak zaman megalitikum atau sekitar 4.500 tahun lalu. Bentuknya pun bermacam-macam, tetapi umumnya berbentuk meja batu datar yang ditopang pilar berbahan batu. Dari beberapa makam batu tersebut, terdapat makam pendiri Ratenggaro dan istrinya, Gaura dan Mamba.

Uniknya, beberapa menhir terletak di tepi pantai, sekitar 500 meter di belakang perkampungan. Ada kubur yang juga tak kalah istimewa, yaitu kubur batu Ratondelo (anak laki-laki Gaura-Mamba) yang sempat dipercaya sebagai Raja Sumba. Selain itu, ada juga kubur batu dari Rato Pati Leko, seorang pejuang yang paling dihormati warga setempat.

Menariknya lagi, ada empat menhir yang diabadikan sebagai tugu, yakni segel kampung sebagai penanda teritori desa adat. Ada juga Tugu Katoda berjumlah dua buah yang dipercayai bertuah bisa mendatangkan kemenangan dalam berperang.

Tugu ketiga adalah kubur Ambu Lere Loha yang dipercaya mempunyai kekuatan guntur kilat. Terakhir adalah tugu untuk meminta hujan.

Keunikan Desa Adat Ratenggaro tak hanya tentang menhir. Masyarakat desa ini juga memiliki kehidupan yang masih memegang erat tradisi peninggalan leluhur.

Desa ini juga memiliki rumah adat yang tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sarana pemujaan. Desa Adat Ratenggaro Sumba juga memiliki kawasan pantai indah serta aneka hasil kerajinan lokal, seperti kain tenun Sumba serta manik-manik dari batu dan taring babi hutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *